Oleh: Drs. Firman Harefa, S.Pd *
Dunia mengakui. Masyarakat internasional pun bukan main kagum dengan anugerah alam yang terhampar di serata Kepulauan Nias. Mulai dari pantai berpasir putih yang berombak besar, danau, keindahan bawah laut serta budayanya, setidaknya inilah daya tarik bagi wisatawan melakukan kunjungan ke Nias.
Bukan basa-basi sekiranya keindahan yang disebut-sebut di Nias itu sebanding dengan Bali yang mendunia karena pariwisata. Cuma sayangnya, kini potensi itu laksana mutiara terpendam. Dibalik keunikan budaya dan keindahan alam tersebut ternyata menyimpan berbagai catatan suram dan kepiluan.
Ironis. Seiring perkembangan zaman modern, justru keadaan pariwisata Nias mengalami kemunduran tak terkira. Jika dulu hampir tiap hari ada saja wisatawan yang datang, kini, sebulan sekali pun susah. Padahal, sekitar 20 tahun silam, kunjungan wisatawan ke Nias per tahun mencapai angka 15 ribu.
Pariwisata Nias mulai terkenal ketika Wakil Presiden Hamengkubuwono IX berkunjung ke Kecamatan Teluk Dalam tanggal 21 April 1973. Dari kunjungan ini, Nias masuk dalam buku panduan pariwisata dunia. Tahun 1976, Pemerintah Daerah Nias mendirikan Kantor Pariwisata (sekarang disebut dinas) yang dipimpin pertama sekali Bambowo Laiya, MA. Kemudian semakin terkenal setelah kunjungan Wakil Presiden Adam Malik ke kawasan Tundrumbaho Kecamatan Gomo tahun 1981.
Berbagai promosi bukannya tak dilakukan pemerintah, baik daerah mupun pusat. Beragam event wisata dan budaya pun kerap dilaksanakan. Namun, tetap belum mampu menarik minat turis. Mengapa wisatawan enggan menghabiskan waktu liburnya di pulau yang berlokasi sekitar 85 mil laut dari Kabupaten Tapanuli Tengah dan Kota Sibolga ini? Apanya yang salah? Mencari kesalahan siapa? Jangan itu ditanya. Lebih bijak kiranya mencari solusi sesuai kemampuan di bidangnya masing-masing. Sektor pariwisata Nias jika dikelola maksimal dan didukung penuh oleh masyarakat, niscaya ia akan menjadi sumber kesejahteraan bagi semua. Sekaligus, ia akan menjadi ‘’surganya dunia”.
Dalam berbagai forum bersama Bupati Nias, Binahati Baeha, SH, kerap ada pertanyaan, mengapa pariwisata Nias belum menjadi andalan daerah? Binahati menjawab diplomatis. Ia bilang, wisatawan ke Nias hanya sisa-sisa dari wisatawan yang ke Sumut. Jumlahnya kecil. Salah satu penyebab adalah terbatasnya transportasi. Dia contohkan, hingga saat ini belum ada penerbangan langsung dari negara asal wisatawan ke Nias.
Oleh karena itu, dalam upaya meningkatkaan kunjungan wisatawan, Pemkab Nias melakukan perbaikan dan penambahan fasilitas bandar udara Binaka di Gunung Sitoli. Memperpanjang landasan agar bisa didarati pesawat berbadan lebar atau jenis boeing sehingga bisa langsung melakukan penerbangan dari negara asal wisatawan ke Nias adalah salah satunya.
Lalu, bagaimana pertanyaan serupa jika diajukan pada Bupati Nias Selatan? Dalam berbagai pertemuan masyarakat Nias, baik di Medan maupun di Jakarta, bupati satu ini tidak pernah hadir. Ia sering diwakili Herman Laia, SH, entah dalam kapasitas apa karena jabatannya tak jelas benar. Maka, jawaban yang diberikan Herman juga tak jelas. Memang diakui bahwa sektor pariwisata belum menjadi andalan. Namun, ”Permainan ke depan, sektor ini harus menjadi andalan,” begitu ucapnya.
Lalu, saya mendengar banyak orang bertanya, apakah kenal dengan Nias? Jawaban sungguh menggembirakan. Meski belum pernah datang langsung, masyarakat Indonesia sudah cukup akrab dengan budaya dan pariwisata Nias. Secara psikologis, itu tak terbantah karena pada Rupiah, salah satu budaya Nias yang juga satu-satunya di dunia yakni lompat batu (hombo batu) pernah menghiasi mata uang resmi Republik ini.
Berkaca dari situ, jelas merupakan satu modal atau pondasi menggairahkan kembali dunia pariwisata Nias yang sempat mati suri. Tinggal bagaimana caranya menyikapi agar bukan sekedar peluang, atau hanya sebuah ilusi atau malah jadi bencana.
Dari mana harus memulainya? Banyak pendapat soal ini. Tapi, kemauan berubah dan kesamaan persepsi masyarakat harus menjadi prioritas utama. Sebab, pariwisata akan maju atau hanya jalan di tempat atau bahkan mundur kalau kesadaran masyarakat soal pariwisata belum tercipta dan sumber daya manusia tak ada perubahan. Intinya, dituntut komitmen bersama, cara pandang dengan konsep global serta menyingkirkan ego sektoral. Hanya dengan itu baru pariwisata Nias siap menyambut tahun 2009 sebagai tahun kunjungan wisatawan sekaligus tahun kebangkitan kembali pariwisata Nias.
Masyarakat Sadar Wisata
Menurut Organisasi Pariwisata Dunia, pariwisata atau turisme adalah perjalanan yang dilakukan untuk rekreasi atau liburan. Turisme juga merupakan industri jasa yang menangani jasa mulai dari transportasi, jasa keramahan, keamanan, tempat tinggal, makanan, minuman, tempat isitrahat, budaya, pelarian, petualangan, dan pengalaman baru berbeda lainnya. Seorang dikatakan wisatawan atau turis apabila ia melakukan perjalanan secara sukarela serta bersifat sementara untuk menikmati obyek dan daya tarik wisata serta bukan untuk mencari nafkah.
Jadi jelas, yang dicari wisatawan atau turis tak lain adalah kenyamanan dan pengalaman yang menyenangkan. Dalam bukunya ”Global Paradox”, John Naisbitt mengungkapkan bahwa pariwisata sudah menjadi globalisasi industri terbesar di dunia. Sebagai penyumbang ekonomi global, pariwisata tidak ada tandingannya. Banyak negara bergantung dari sektor ini sebagai sumber pajak dan pendapatan.
Nah, sebenarnya Nias sudah punya semua syarat untuk menjadikan sektor pariwisata sebagai sumber pendapatan unggulan. Sebagaimana Bali dan daerah wisata lainnya di dunia mempertahankan posisinya sebagai ikon pariwisata, barangkali, ini yang masih kurang dan dilupakan. Kuncinya adalah kerjasama terpadu dan saling mendukung antara pemda dengan pelaku usaha, tokoh masyarakat, serta stakeholder yang berkepentingan.
Masyarakat mesti sadar wisata. Mengapa demikian? Dengan kesadaran yang dimiliki, inilah menarik minat awal kunjungan. Sadar wisata dapat diartikan masyarakat mampu menjawab apa yang bisa dilakukan sehingga potensi wisata sebagai sesuatu yang lebih indah dan menarik. Sadar wisata dapat juga dikatakan sebagai pemahaman akan arti dan hakekat pengembangan pariwisata. Dilihat dari posisi dan perannya dalam pembangunan daerah, semua harapan dan masalah yang dihadapi dalam pembangunan pariwisata selalu berkaitan dengan kepentingan wisatawan, kepentingan umum serta kepentingan daerah.
Partisipasi masyarakat diperlukan dalam hal penciptaan lingkungan dan suasana yang kondusif bagi tumbuh dan berkembangnya kegiatan kepariwisataan. Karena itu, masyarakat harus senantiasa menjaga beberapa hal, yakni rasa aman, tertib, bersih, sejuk, indah, ramah, dan kenangan sehingga akan timbul keinginan wisatawan mengunjungi kembali Kepulauan Nias.
Jika program sadar wisata berjalan sebagaimana rencana, masyarakat juga terkena dampaknya. Misalnya, bisa memasarkan berbagai souvenir, hasil pertanian seperti buah buahan, hasil perikanan dan sebagainya. Seperti saya katakan di awal tulisan ini, pembangunan pariwisata yang baik harus dimulai dari kesamaan visi antara masyarakat dan pemerintah. Menggalang peran serta masyarakat, itulah tantangannya. Pemerintah harus aktif dan kreatif menemukan cara agar sadar wisata masyarakat Nias lebih tinggi dari sekarang. Bahwa tak gampang dan butuh waktu lama, bukan berarti itu menjadi hambatan.
Pariwisata Nias tidak akan tumbuh dan berkembang tanpa adanya partisipasi aktif dari segenap komponen. Katakanlah objek wisatanya bagus, infrastruktur memadai, serta promosi besar-besaran, tak akan berarti banyak jika kesadaran masyarakat terhadap wisata masih rendah. Apalagi jika sumber daya manusia pengelola pariwisata dan pemerintah masih berorientasi kepentingan pribadi dan sesaat. Ini harus dirubah sesuai konsep sadar wisata.
Harus ditanamkan kesadaran bahwa kekuatan pariwisata terletak pada manusianya. Tentunya manusia yang hangat, ramah tamah, murah senyum dan senang menolong tamunya, sehingga tertanam kerinduan untuk kembali. Jadi, menyiapkan masyarakat dan pejabat yang sadar wisata sangat penting. Berdampak besar bagi kemajuan dan pengembangan pariwisata. Kita, ono niha berharap agar potensi yang ada tak sekedar menjadi peluang atau ilusi atau malah menjadi bencana. Semoga.

Drs. Firman Harefa, S.P ( Kepala Bidang Lalu Lintas Angkutan Laut dan Kepelabuhanan Kantor Administrator Pelabuhan Kelas I Dumai – Riau)



April 27th, 2009 at 6:31 pm
semua pemimpin di Nias no arere ira ba dalu