Oleh: Drs. Firman Harefa, S.Pd *
Pemilu 2009 sangat berbeda dengan pemilu sebelumnya, baik dari sisi pelaksanaan maupun dari sisi hasil Pemilu itu sendiri. Sangat demokratis dan paling memenuhi kedaulatan rakyat. Paling tidak itulah yang mengemuka sejak kampanye dan tahapan Pemilu dimulai. Sudah kita lewati semua tahapan itu, dan hari ini (Kamis, 9 April) adalah pembuktian. Sejatinya pembuktian.
Bagi para caleg, tentu ada khawatir membuktikan apakah akan terpilih. Begitu pula bagi rakyat, apakah benar-benar memberikan pilihan yang tepat. Saya kira, apapun hasilnya, wakil rakyat yang terpilih memang harus mereka yang masuk dalam ketegori wakil rakyat sejati. Apa pasal? Selama masa kampanye yang panjang, tak sedikit caleg yang bertumbangan oleh berbagai sebab. Yang bertahan hingga hari H, tentulah punya daya tahan. Paling tidak kesejatian mereka sebagai caleg teruji terlepas apakah benar-benar berniat memperjuangkan rakyat atau tidak.
Rakyat sudah pasti ingin wakil yang sejati. Tapi bukan sejati dalam artian mampu bertahan dalam masa kampanye yang panjang semata. Sebagaimana kata Iwan Fals dalam lagunya, ”Wakil rakyat seharusnya merakyat, bukan tidur saat sidang soal rakyat” agaknya relevan menjadi bahan evaluasi. Evaluasi bagi rakyat, evaluasi bagi para caleg, serta evaluasi bagi mereka yang sudah duduk dan ikut mencalonkan kembali.
Barangkali mudah memberi cap bagi mereka yang sudah duduk di lembaga legislatif dan bertarung kembali dalam Pemilu 2009. Track record mereka bisa tergambar dari kinerja selama lima tahun sebelumnya. Jika mereka benar-benar wakil rakyat sejati, tentulah tak usah diragukan rakyat akan memilih. Tapi jika tidak, tentu pula mereka bukan wakil rakyat sejati.
Persoalannya, kata kawan diskusi saya, ”Mereka yang terpilih tetap saja namanya wakil rakyat sejati. Sekalipun untuk terpilih itu ia melakukan kecurangan, bohong atau kelakuan buruk sekalipun”. Sejak pertengahan 2008 hingga April 2009, di jalan-jalan, media massa cetak dan elektronik, para calon wakil rakyat begitu sibuk berkampanye, berjanji menjadi penyambung aspirasi rakyat.
Tapi, kata kawan lain, ”Wakil rakyat sejatinya memang benar-benar mewakili rakyat dan memperjuangkan aspirasi rakyat. Wakil rakyat seharusnya diisi oleh orang-orang yang merakyat, dikenal di lingkungannya, punya kontribusi bagi kemajuan masyarakat, bukan hanya mengambil hati rakyat saat menjelang pemilu. Bagaimana mungkin ia mengenal kondisi masyarakatnya jika tidak pernah berbaur dengan masyarakat?”.
”Wakil rakyat juga orang yang peka terhadap penderitaan rakyat. Mahalnya ongkos kehidupan, pontang-pantingnya rakyat mencari makan dan biaya untuk sekolah, sudah seharusnya menjadi perhatian. Wakil rakyat seharusnya tidak disibukkan dengan perebutan kue kekuasaan, meributkan tunjangan dan fasilitas, sementara mereka sendiri belum mampu berbuat banyak di tengah kondisi ekonomi yang mengimpit rakyat. Wakil rakyat seharusnya tidak hidup bermewah-mewah, dan mengedepankan kesederhanaan, sehingga, kalaupun mereka belum mampu mencari solusi permasalahan rakyat, rakyat tidak merasa dibohongi dengan pilihannya berpartisipasi di pemilu”.
Dari paparan diatas, sesungguhnya pemilih dapat menyimpulkan seperti apa sesungguhnya sosok wakil rakyat sejati. Memang kita sempat dibuat kecewa dengan berbagai lakon tidak bermutu dari para calon wakil kita itu, mulai ijazah palsu, perebutan urutan nomor caleg, money politics sampai pada berbagai lakon remeh lainnya. Belum lagi beberapa anggota DPR RI dan DPRD yang harus menjadi tersangka kasus korupsi, rasanya pesimis.
Tapi, yakinlah, masih ada wakil rakyat sejati diantara banyak label sejati yang diungkapkan. Kuncinya, teliti, teliti dan telitilah sebelum memberikan pilihan. Buatlah pilihan kritis dan jangan memilih berdasarkan empati. Kita jangan terjebak lagi memilih wakil yang cuma mengedepankan retorika dan simpati ketimbang muatan pemikiran dan ide-ide kedepan yang akan diambil jika terpilih sebagai wakil rakyat. Ingat, suara rakyat adalah suara Tuhan.
Pemilu 2009 adalah harapan besar dan kita, seluruh komponen bangsa harus memahaminya secara baik. Kita jangan berharap apapun selain keinginan untuk bersama-sama menuju kehidupan yang adil dan sejahtera. Inilah saatnya kita memilih, menentukan siapa yang layak memimpin kita.
Sebelum itu, dari berbagai simpulan, saya menyimpulkan pula bagaimana kriteria wakil rakyat sejati. Paling tidak, ini dapat menjadi dasar atau acuan sebelum datang ke TPS menjatuhkan pilihan.
Sikap wakil rakyat sejati yang kita harapkan antara lain adalah:
1. Memiliki sikap empati dan sensitivitas terhadap rakyat.
Menurut Mahatma Gandhi, empati adalah ukuran apakah seseorang bisa menjadi wakil rakyat atau tidak. Empati dan sensitif terhadap rakyat merupakan modal dasar bagi seorang pemimpin sejati. Seorang pemimpin di level manapun mustahil memahami dengan baik rakyat yang dipimpinnya ketika mereka belum merasakan langsung kondisi rakyatnya.
Masalahnya, selama masa kampanye, semua calon wakil rakyat kita menunjukkan empati dan sesitivitas itu. Tinggal kita jeli, maka akan kelihatan mana yang palsu atau pura-pura dan mana yang sebenar-benarnya empati dan sensitif.
2. Berfikir dan Bertindak ilmiah.
Sudah menjadi pengetahuan umum selama ini wakil rakyat masih didominasi mereka dengan tipe bertindak berdasarkan feeling atau pemikiran sesaatnya. Mereka lebih menyukai pertarunagn retorika, pilihan kata, media dan pertarungan massa. Lobi politik jauh lebih penting ketimbang mempertajam gagasan yang diusung. Satu hal lagi, tak sedikit mereka menjadi wakil rakyat karena memiliki keturunan biologis. Maka, kecermatan menjadi penting bagi pemilih memberi penilaian.
3. Mampu berkomunikasi dengan rakyat.
Komunikasi yang baik kepada rakyat bukan sekedar kemampuan retorika yang baik. Mereka yang memiliki empati dan sensitivitas serta intelektualitas ilmiah pada akhirnya akan menjadi pemimpin yang mampu berkomunikasi dengan baik kepada rakyatnya. Mereka mampu berkomunikasi yang jauh dari sikap emosional.
4. Berani menuangkan gagasannya pada ruang publik.
Memang ini bukan suatu keharusan, tapi wakil rakyat yang berani menuangkan idenya pada ruang publik dapat dinilai bahwa mereka mengajak publik untuk terlibat dalam pengambilan keputusan.
5. Memiliki kredibilitas moral yang teruji.
Sikap inilah yang membuat seorang wakil rakyat menjadi sempurna. Apakah kelak mereka akan dikenang harum atau sebaliknya tergantung moral yang teruji.
Dari paparan diatas, saya kira seperti itulah kategori wakil rakyat yang dinanti-natikan. Selanjutnya, kembali ke pemilih, apakah ingin mempunyai wakil rakyat sejati atau wakil rakyat yang pura-pura sejati?
Pilihan tetap ditangan rakyat. Mudah-mudahan pada Pemilu 2009 kita benar-benar mendapatkan wakil yang sejati. Wakil yang paham kondisi rakyat dan wakil yang tidak beretorika. Semoga pemilu sukses dan menghasilkan apa yang diharapkan rakyat. Selamat memilih.

* Drs. Firman Harefa, S.Pd (Kepala Bidang Lalu Lintas Angkutan Laut dan Kepelabuhanan Kantor Administrator Pelabuhan Kelas I Dumai – Riau)











