Oleh: Drs. Firman Harefa, S.Pd *
Resolusi nomor 1860 tanggal 9 Januari 2009 yang dikeluarkan Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa Bangsa (DK PBB) seolah tak ada arti karena dentuman bom, rentetan senjata dan korban yang terus berjatuhan di Palestina terus saja terjadi. Damai belum juga wujud di Gaza, setidaknya hingga tulisan ini dipublikasikan. DK PBB itu mandul, tak menunjukkan keperkasaannya menciptakan perdamaian di dua wilayah Timur Tengah yang kini bertikai hebat itu.
Dunia mengutuk, masyarakat internasional pun mengecam agar perang dihentikan. Memang pantas rasa solidaritas kita gelorakan meski kita berada di belahan bumi yang lain. Kemanusiaan dan kedamaian haruslah dikedepankan demi kehidupan yang berkelanjutan. Menjadi pertanyaan barangkali, apa yang bisa menghentikan perang itu? Atau siapa yang bisa menghentikan perang yang menyebabkan korban tak berdosa terus berguguran itu?
Berharap pada pemimpin di Timur Tengah (Arab) yang secara geografis menjadi saudara paling dekat dengan Palestina maupun Israel? Rasanya pembelaan yang tampak setengah hati. Kita pun mafhum, sedangkan berbagai konflik internal saja, mereka belum mampu mengatasinya. Inikan pula untuk menghentikan perang yang entah merebutkan apa antara Israel dan Palestina. Selain konflik internal, kita juga tahu bahwa banyak negara Arab berada pada kendali Amerika Serikat (AS). Ini sudah jadi rahasia dunia. Tapi sudahlah, itu cerita lain. Yang diinginkan masyarakat internasional saat ini adalah perang segera berhenti dan masyarakat Palestina mendapatkan kembali hak-hak hidup layaknya manusia lain di muka bumi.
Setidaknya, hingga memasuki hari ke 20 perang Israel-Palestina, sudah lebih 1000 jiwa terkorban, yang umumnya masyarakat sipil dan didominasi anak-anak. Tidakkah besarnya jumlah korban itu menjadi syarat bahwa damai dan gencatan senjata harus dihentikan? Belum puaskah kedua belah pihak mempertontonkan penderitaan anak yang kehilangan ibu, istri yang kehilangan suami, orang-orang tercinta, harta benda, bahkan tempat berteduh sekalipun? Coba bayangkan, jika itu semua menimpa kita.
Perang telah merusak tatanan kemanusiaan dan peradaban. Air mata bercampur darah. Nyawa seolah tak ada arti. Hari-hari dan setiap tarikan nafas rakyat Palestina adalah momok yang menakutkan. Tubuh-tubuh yang tercabik bergelimpangan itu pun berharap, tolong perang dihentikan!
Tapi, kepada siapa harapan itu digantungkan ? Lembaga dunia sudah berupaya, namun serangan tetap tak berhenti. Masyarakat Internasional pun lantang berseru, mengutuk dan mengecam bahwa perang hanya menimbulkan kesengsaraan.
Sejuta pertanyaan, sejuta harapan. Tapi, secercah sinar itu memang masih ada. Dunia kini tertuju pada satu sosok baru pemimpin negara superpower, Amerika Serikat. Dialah Barrack Hussein Obama, presiden terpilih ke 44 negeri Abang Sam. Obama sesungguhnya memegang kunci yang menentukan apakah perang terus lanjut atau dihentikan. Mengapa Obama? Dari berbagai fakta, Israel adalah anak emas AS di Timur Tengah. Karena dukungan AS-lah, Israel berani dan semakin menjadi-jadi menggempur Palestina. Pasalnya ketergantungan Israel kepada AS sangat luas. Misalnya saja subsidi ekonomi, pasokan senjata dan bantuan yang mengalir tiap tahun ke Israel. Dengan kata lain Israel lain adalah ”peliharaan” AS.
Kita pun melihat betapa kuatnya keberpihakan negara adidaya tersebut terhadap Israel. Misalnya, ketika DK PBB menyerukan gencatan senjata. Dari 15 negara anggota DK PBB, hanya AS yang abstain dalam voting yang menghasilkan resolusi nomor 1860. Dan, kita sadar, lembaga dunia yang terhormat itu ternyata tak berdaya tanpa AS. Makanya Israel mengabaikan resolusi PBB itu dan terus beringas menggempur Palestina. Semula, sikap Obama acuh, seolah tak ada perhatian sama sekali terhadap agresi Israel ke Palestina. Kita pun geram, lalu menilai Obama ternyata tak ada bedanya dengan pemimpin AS terdahulu. Padahal, dalam kampanyenya ketika pemilihan presiden, ia lantang menyerukan penghapusan diskriminasi. Menurut saya, perang juga salah satu bentuk diskriminasi.
Rupanya presiden kulit hitam pertama di AS ini sadar dunia membutuhkan ketegasannya. Kemudian ia angkat bicara. Sebagaimana dilansir berbagai media, Obama berjanji akan menghentikan serangan itu di hari pertamanya menjabat Presiden AS. Sungguh luar biasa, janji Obama ini bagai peneduh ditengah terik matahari. Dia resmi dilantik tanggal 20 Januari 2009 sebagai Presiden AS yang akan membawa perubahan lebih baik di muka bumi. Dia adalah orang yang punya perasaan kemanusiaan yang tinggi. Walau memimpin di negara adikuasa yang paling disegani dunia, dia tak bisa menipu hati nuraninya melihat kenyataan yang ada. Sikapnya yang berani mengeluarkan pernyataan penting sebelum dilantik, inilah yang membedakan Obama dengan pendahulunya yang kerap mengabaikan rasa kemanusiaan. Mungkin, Obama satu-satunya Presiden AS yang tegas menyatakan sikap seperti ini selama berlangsungnya perang Israel dan Palestina lebih kurang 60 tahun.
Jujur saja, kita berharap penuh atas janji Obama ini. Mudah-mudahan sebelum dan sesudah tanggal 20 Januari 2009 tak ada kuasa lain yang mampu mengubah keputusannya menghentikan perang Israel dan Palestina untuk selama-lamanya dari kehidupan di muka bumi. Oleh karena itu, sambil harap-harap cemas menunggu realisasi janji tersebut, tidak ada salahnya kita doakan agar perjalanan Obama memimpin AS dapat berlangsung sukses dan lancar karena dia kita butuhkan untuk perdamaian dunia. Bravo Obama, jadilah pemimpin dunia yang lebih arif dan bijaksana. Dan, tolonglah hentikan peperangan itu.
Catatan: tulisan ini sudah dimuat di Harian Riau Pos, Selasa 20 Januari 2009 dan Harian Padang Ekspress, Kamis 22 Januari 2009.
* Drs. Firman Harefa, S.Pd (Kepala Bidang Lalu Lintas Angkutan Laut dan Kepelabuhanan Kantor Administrator Pelabuhan Kelas I Dumai – Riau)



February 1st, 2009 at 2:20 pm
Untuk Tuan Niaspost & Drs. Firman Harefa:
Tolong bijak dalam menyikapi permasalahan yang terjadi di TIMTENG? Apakah saudara tahu bahwa selama 8 tahun kelompok HAMAS menyerang rakyat Israel setiap hari dengan roketnya?? (wawancara exlusif tvone dengan DubesIsrael di Singapura tgl,29 Jan 09) Jadi sangat wajar kalau sampai sekarang tentars Israel terus berperang melawan HAMAS yang notabene adalah awal mulanya masalah dan kita harus lihat juga ketika genjata senjata di berlakukan dengan diam-diam HAMAS menyerang wilayah Israel dengan roketnya, dan artinya bahwa permasalahan keamanan di TIMTENG bukan di tangan OBAMA sebagai Presiden AS tetapi kepada kedua belah pihak dan harus ada perjanjian dari HAMAS untuk menghentikan Roketnya sekaligus jalur bawah tanah di tutup sebagai temapat penyelundupan senjata selama bertahun-tahun, Saohagolo
February 9th, 2009 at 4:00 pm
Hai pak Banuada, saya sarankan Anda membaca dan memahami isi tulisan tersebut secara keseluruhan. Jangan sepotong-sepotong yang menyebabkan komentar Anda pun terpotong. Barangkali Anda hanya membaca judulnya saja ya?
Buat Anda, saya beritahukan: Tulisan Sdr Firman Harefa dengan judul Tuan Obama, Hentikan Perang itu! menurut saya tulisan yang sangat analisis dan tajam. Penulis sudah memahami bahwa Israel dan Hamas tidak berhenti karena mereka punya kepentingan berbeda.
Oleh karena itu, butuh penengah. Anda tak tahu ya bahwa PBB sudah berupaya tapi gagal? Bayangkan, lembaga dunia saja tak bisa berbuat banyak.
Nah, firman mencoba analisa, siapa ya kira-kira yang bisa menghentikan perang itu? Kalau saya pribadi menjawabnya gampang aja. Ya, tuhan lah. Siapa bisa melawan tuhan.
Tapi firman melihat ternyata sebelum tuhan turun tangan, masih ada kekuatan yang bisa menghentikan perang tersebut. Yaitu Presiden AS, Barrack Obama. Sebagai pemimpin negara adikuasa, Obama bisa menekan agar berhenti berperang. Perlu anda tahu, Israel dan Hamas hanya pemain lapangan!!!! Aktor intelektualnya??
Saya salut dengan tulisan firman harefa ini. Dia sangat netral. Tidak menghujat serta menggunakan bahasa yang sopan. Dia tidak melihat latar belakang terjadinya perang, tapi lebih mengedepankan rasa kemanusiaan.
Semoga Anda mengerti sebelum memberi komentar Pak Banuada.
Terima kasih