Oleh: Drs. Firman Harefa, S.Pd *
Tulisan ini merupakan lanjutan tulisan saya sebelumnya yang berjudul ”Majulah Pulau Nias”. Optimisme saya bukan semata euforia menyambut pemekaran sekaligus tiga daerah otonom di Pulau Nias. Memang itu membanggakan karena sejarah pemekaran pertama yang pernah terjadi di Republik ini. Tapi, bukan lantaran sejarah telah ditoreh membuat kita terbuai dan selalu membanggakan diri. Harus kita sikapi, bahwa setelah pemekaran ini, tak boleh lagi kita lengah. Segala peluang yang ada walau kecil sekalipun, harus kita tangkap menjadi potensi yang berdampak nyata pada peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Di ”Majulah Pulau Nias”, saya menekankan bahwa peletakan dasar kebijakan pembangunan setiap daerah otonom harus benar-benar disejalankan dengan cita-cita awal pemekaran. Jangan ada tarik ulur kepentingan kelompok atau mendahulukan ego semata. Terutama soal siapa yang memimpin nantinya. Namun, kebersamaanlah yang harus dikedepankan. Kebersamaan yang saya maksud, adalah mendahulukan kepentingan yang lebih besar, yakni mensejahterakan masyarakat hingga Nias mampu bersaing dengan daerah lain di Indonesia. Saya beri judul tulisan ini ”Menuju Nias Sejahtera, Mandiri dan Bermartabat”. Tujuannya semoga semua elemen yang ada di Nias mampu terpacu memberikan apapun bakti untuk kemajuan Nias. Barangkali, karena kecintaan saya pada Nias, melalui tulisan inilah bakti yang dapat saya persembahkan. Semoga kelak masyarakat benar-benar bisa mandiri, sejahtera dan bermartabat.
Sepengetahuan saya, hingga saat ini Nias masih masuk dalam kategori daerah tertinggal. Terutama dari segi kesejahteraan masyarakatnya. Padahal, kalau ditelaah lebih jauh, utamanya pada bidang ekonomi, bumi Nias mengandung banyak kekayaan. Pertanyaannya mungkin, kenapa Nias tak maju-maju? Ada pendapat yang mengatakan bahwa Nias tidak maju karena tak ada usaha, kerja keras, dan kemauan untuk berkembang dari masyarakat Nias sendiri. Ada pula tanggapan bahwa Nias tak maju karena banyak masyarakatnya yang pintar-pintar lebih senang berada diluar. Entahlah. Tapi, sejak lahir tiga daerah otonom baru, optimisme membangun sumberdaya manusia yang handal, saya rasa bukan lagi sekedar wacana dan cita-cita. Pemerintah daerah yang ada di Nias, kini 4 kabupaten dan 1 kota bisa lebih leluasa mencetak sumberdaya manusia tangguh berdaya saing global.
Oleh itu, agar cita-cita mulia ini tak lari dari tujuan awal, memang perlu kita kawal bersama secara konsisten. Lebih tepatnya, saya sarankan agar kebijakan pembangunan difokuskan pada sektor pengembangan sumber daya manusia dan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Bentuknya mungkin bisa melalui program pelatihan, penyuluhan atau pemberian bimbingan kepada masyarakat. Misalnya bagaimana mengarahkan masyarakat menjadi petani yang profesional, menjadi peternak yang profesional, atau menjadi nelayan yang profesional serta banyak lagi. Tentu dalam pemberian pelatihan, penyuluhan dan bimbingan harus profesional pula. Jadi tidak asal jadi seperti yang terjadi di berbagai daerah di Indonesia.
Langkah awalnya, Pemda-Pemda di Nias harus dapat memacu masyarakat agar berusaha ke sektor yang sifatnya memenuhi kebutuhan masyarakat yang selama ini didatangkan dari luar Nias. Sebab, saya dengar, untuk memenuhi kebutuhan seperti beras, ikan asin, garam, bahkan cabe saja, Nias masih mendatangkannya dari luar. Ironis memang. Padahal, untuk urusan ini, saya melihat Nias cukup punya potensi, minimal bisa memenuhi kebutuhan masyarakatnya. Kok masih repot mendatangkan berbagai kebutuhan tersebut dari luar?
Disini saya tak hendak hanya menyalahkan masyarakatnya, namun juga pemerintah. Sebenarnya, tinggal bagaimana masyarakat dimotivasi dan diberi bimbingan, sehingga pendapatan masyarakat juga meningkat serta dapat menekan tingkat pengangguran disamping mengembangkan usaha-usaha besar untuk jangka panjang. Hal lain yang perlu dilakukan jika berbagai usaha masyarakat sudah berhasil adalah menciptakan pasar atau tempat pemasaran keluar Nias. Pemerintah daerah harus membantu masyarakat memasarkan hasil usaha. Sehingga masyarakat tidak sulit untuk menjual produk yang dihasilkan. Atau bagusnya setelah dimulai dari memperkuat usaha-usaha masyarakat yang sifatnya memenuhi kebutuhan, bila perlu ini bisa menjadi unggulan daerah. Keuntungannya, uangpun tidak keluar Nias. Tapi berputar di daerah Nias itu sendiri. Hal ini akan berdampak pada kemampuan daerah Nias secara keseluruhan.
Satu contoh yang cukup menarik sewaktu saya bertugas di Tanjung Pinang, Kepulauan Riau. Kabupaten Bintan membentuk tim dari pemerintah daerah untuk memasarkan ikan asin ke Australia. Usaha ikan asin sederhana memang, tapi Pemda Kabupaten Bintan melihat hal itu satu peluang bisnis daerah. Berkaca dari contoh diatas, harusnya Pemda-Pemda yang ada di Nias berbuat seperti itu. Tentu disesuaikan dengan kondisi dan potensi yang ada. Jika sudah demikian, dengan berbagai kemajuan yang telah kita capai, ditambah optimisme, kita pasti bisa lebih baik ke depan. Kalau yang berkembang hanya pesimisme, apapun kebijakan yang dibuat, Nias tetap punya hambatan untuk maju. Mari kita saling melengkapi demi Nias sejahtera, mandiri dan bermartabat.
* Oleh: Drs. Firman Harefa, S.Pd (Kepala Bidang Lalu Lintas Angkutan Laut dan Kepelabuhanan Kantor Administrator Pelabuhan Kelas I Dumai – Riau)



January 24th, 2009 at 5:58 pm
Gimana Nias maju ya??
kalao Korupsinya merajalela..
February 18th, 2009 at 5:03 pm
Saya rasa yang perlu dilakukan untuk membangun Nias adalah melakukan pembenahan terhadap para pejabat yang selama ini melakukan korupsi.
Maju terus Pulau Nias tercinta.